Tampilkan postingan dengan label My Activities. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Activities. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 29, 2016



Rumoh Aceh tempat menyimpan naskah ini terbagi tiga, sebagaimana umumnya arsitektur Rumoh Aceh di Aceh, yaitu terdiri dari Seuramo Keue atau Seuramoe Reungeun (Serambi Depan atau Serambi Tangga), Seuramoe Teungoh (serambi tengah) yang biasanya disebut juga Seuramoe Inoeng (Serambi Perempuan) atau ruang utama keluarga, dan ketiga; Seuramoe Likoet (serambi belakang) yang biasanya digunakan untuk dapur.

Kami berada di serambi depan, dan saat pemilik rumah mengambil beberapa naskah di serambi belakang untuk dipersembahkan di hadapan kami, saya sudah familiar dan membaca perbagian secara sepintas, terdapat beberapa judul yang termasuk langka ditemui naskah di Aceh saat ini.

Namun, saat saya dipersilahkan melihat ke serambi belakang, tempat disimpannya naskah, saya terkejut karena naskah disimpan dalam satu lemari dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan, saya jamah satu baris saja mengingat waktu yang sempit, beberapa naskah memang tidak dapat terbaca lagi. Dari sepintas lemari tersebut saya melihat beberapa mushaf di tempat himpitan paling bawah.

Lebih menyedihkan saat sang pemilik berkata "dalam umpang dan plastik mirah nyan kertah-kertah kitab sion-on yang lon peusapat" (Dalam empang dan plastik merah itu lembaran naskah yang sudah copot saya kumpulkan). Padahal awalnya saya menduga itu adalah bagian perkakas dapur.

Lemari penyimpan naskah yang sebenarnya digunakan untuk simpan gelas, piring dan bahan-bahan dapur

Dalam kondisi seperti ini, kita bersyukur naskah belum musnah akibat bencana alam. Tetapi tidak dapat dipungkiri naskah-naskah tersebut tidak akan bertahan lama dari kerusakan alami yang memang terjadi secara alamiah. 

Bagaimanapun pemerintah harus memberi perhatian lebih kepada perawat-perawat naskah yang telah menghabiskan sebagian hidupnya dan hartanya untuk penyelamatan ini. Bagi saya akan aneh bila ingin dibandingkan bahwa bagi perawat benda cagar budaya seperti benteng, mesjid tuha, candi dan artefak lainnya selalu mendapatkan kucuran dana pemerintah bahkan digaji perbulan untuk jasa perawatan tersebut. Tetapi, mengapa untuk perawat naskah atau lebih kepada khazanah intelektual dan kekayaan budaya Aceh tidak mendapat perhatian apa-apa.

Pemerintah Aceh agar dapat menginventarisir pemilik-pemilik naskah (koleksi) dan bekerjasama dengan mereka dalam bentuk perawatan dan penyelamatan. Para kolektor manuskrip menjadi "partner kerja" bukan "objek kerja" alias "proyek tarek peng", mereka dapat dibiayai negara sebagai penjaga khazanah dan benda-benda cagar budaya, yang -sebenarnya-  sama fungsinya dengan penjaga benteng, mesjid tua, candi, ataupun petugas di museum, perpustakaan dan badan arsip, yang sama-sama tugasnya menjaga khazanah warisan budaya. 

Tentunya hal ini dapat menghemat biaya dinas-dinas (Pemerintah Aceh) daripada membeli naskah-naskah tersebut dengan harga tak terjangkau, sebab selama ini selalu berkilah tidak cukup anggaran. Hal itu itu mengajarkan masyarakat itu merawat khazanahnya, keterlibatan dan kepedulian masyarakat Aceh merupakan hal penting untuk keberlangsungan khazanah di Aceh.

Kolofon Kitab Syarah Matan Fi 'Isyrin, selesai disalin pada malam 24 Ramadhan waktu Isya'.

Masih ada beberapa naskah yang bisa diselamatkan, baik fisik ataupun isinya. Naskah-naskah ini menjadi bahan kajian kepada para pelajar, peneliti dan intelektual di dalam maupun luar negeri, baik pada saat ini ataupun di kemudian hari. Kita patut belajar dari Malaysia, Leiden Belanda, Inggris dan Jerman, mereka mengumpulkan banyak literatur-literatur lama dari berbagai negara dan membuka peluang bagi peneliti untuk berkunjung ke negaranya, dengan demikian telah memberikan investasi kepada negeri melalui pendidikan dan kerjasama penelitian -sekaligus meningkatkan devisa negara-, yang mereka sebut investasi jangka panjang dan berkesinambungan akan memberi dampak positif kepada bidang-bidang lainnya.

Misal diantaranya mengkaji kembali hubungan bisnis Aceh dengan negara luar, baik dalam perdagangan rempah-rempah dan bisnis kertas. Kertas salah satunya di bawah ini merupakan produksi Sanderstead, London UK dicetak pada tahun 1788 dan beberapa tahun kemudian diperdagangkan. Aceh pada posisi tersebut sudah mulai lemah dari sisi ekonomi bisnis dan kekuasaannya, tetapi masih sanggup membeli kertas produk Inggris yang harga melangit karena kualitas bagus.

Salah satu lembaran yang menunjukkan watermark (cap kertas) (Sanderstead, London 1788 M)
Lantas, sampai kapan naskah di Aceh dapat selamat di tangan-tangan koleksi pribadi masyarakat yang mereka awam terhadap manuskrip. Jika mereka tidak disuguhi dengan pengetahuan cara baik dan bijak merawat naskah, tidak diberi pengetahuan tentang penyelematannya, tidak diinformasikan pentingnya karya ulama dan intelektual diwariskan. Maka, saat musnah semuanya Aceh dikenal bangsa tidak punya sejarah dan tidak berperadaban, maka pemerintah Aceh (dan kita) menyuguhkan "Aceh negeri dongeng" kepada generasi selanjutnya.



Baca sebelumnya bagian 1

Manuskrip Lampanah: Antara Kepedulian dan Warisan (bag. 2)

Read More

Selasa, Juni 21, 2016

Berawal dari informasi ibu Nurul, salah seorang dosen di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, kami bersama-sama dengan beberapa orang para dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengunjungi pemilik naskah di kawasan Aceh Besar, Gampong Lampanah, di sebuah rumah dengan konstruksi kayu peninggalan masa lalu, disebut rumoh Aceh. Walau kelihatan tonggak kayu utama miring, tetapi masih kokoh. Rumah yang telah mengalami beberapa tahap renovasi dan penambahan dapur ke bawah itu memberikan kami informasi penting, betapa kaya ilmu tersimpan di rumah yang sederhana dan berumur tua.

Perjalanan ditempuh satu jam dari Kota Banda Aceh melalui jalan utama Banda Aceh-Medan, kemudian memasuki kawasan Gampong Lampanah, Kemukiman Lampanah, Aceh Besar. Rumah penduduk disini termasuk kawasan padat, tampak sepanjang jalan gampong tidak ada lagi lahan dan tempat bermain di tanah lapang, pilihan terakhir adalah bermain di bawah rumah panggung dan rumoh Aceh, atau di halaman sekolah dan halaman mesjid.

Tujuan utama melihat manuskrip tersebut di rumah salah seorang pemilik dan pewaris dari kakeknya secara turun-temurun. Kami hanya mendapat sedikit informasi bagaimana naskah-naskah ini berada di tangannya sekarang, termasuk perlakuan dan perawatan. Namun, kami kaya akan banyak data yang tersimpan di dalam naskah-naskah kuno yang mayoritasnya sudah tidak sempurna lagi, setidaknya itu harapan pertama. Menurut ahl bait pewaris naskah, semua naskah ini dibawa dari Pidie, saat mereka hijrah ke Aceh Besar, di sini (Lampanah) kakeknya membuka dayah atau tempat pengajian kepada penduduk setempat saat itu (tahun ?).

Kitab Mujib An-Nida' Ila Syarah Qatr An-Nida', termasuk kitab langka dalam ilmu bahasa dan grammatika, daripada kitab utamanya Qatr An-Nida' yang banyak salinannya di Aceh.

Ini merupakan informasi awal, kami menduga bahwa kitab-kitab (manuskrip) di sini umumnya dalam bidang al-Quran dan tafsir, fiqih dan faraid, tauhid dan tasawuf,  baik dalam bahasa Arab ataupun bahasa Jawi (Melayu).  Dan kemungkinan besar didominasi oleh teks-teks berbahasa Arab, karena di sini sentral pengajian untuk Gampong Lampanah dan sekitarnya.

Saat kami mulai ditunjukkan tiga naskah, sangat disayangkan, naskah-naskah yang disimpan tidak terawat dengan baik, walaupun menurut pemilik sudah menjaga dengan baik. Namun, saya memaklumi atas hal demikian karena ini adalah pengetahuan mereka, maka yang terbersit dalam benak saya adalah membangunkan pemerintah Aceh -terutama SKPA terkait- yang terlena dan tertidur selama ini. Paling utama perlu adanya edukasi kepada masyarakat yang masih "setia" menyimpan naskah, mereka tidak menggadai ke luar negeri, mereka tidak tergiur dengan mata uang asing, jadi harus ada pengetahuan bagaimana mereka merawat dan menyimpan naskah dengan baik.

Edukasi yang diperlukan ini baik dalam bentuk sosialisasi ataupun pelatihan-pelatihan yang diberikan Pemerintah Aceh kepada mereka, misalnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dispudbar), Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB), Kemenag, Badar Arsip dan Perpustakaan (BAP) Lembaga Wali Nanggroe (LWN), Badan Dayah Aceh (BDA) dan Majelis Adat Aceh (MAA), atau lembaga lainnya yang memiliki tugas fungsi dalam penyelamatan khazanah dan budaya Aceh. Semua lembaga tersebut memiliki keistimewaan dan karakteristik di Aceh terutama pada khazanah warisan Aceh, bukan pada proyek "infrastruktur" semata.

Kondisi ini tidak bisa ditunda dan dibiarkan, sebab setiap harinya naskah-naskah ini akan rusak secara alami, baik dimakan rayap, aus ketajaman zat tinta, bencana alam, dan sebagainya. Salah satunya kitab di bawah ini, kitab Tafsir yang semakin hari akan hancur kertas akibat ketajaman tinta. Maka perlu segera penanganan lebih lanjut, antaranya digitalisasi atau foto naskah untuk penyelamatan isi kandungan manuskrip tersebut.

Teks Tafsir al-Qur'an.
Kepedulian sang pewaris telah berusaha semaksimal dan dengan segala penuh upaya menyelamatkan manuskrip tersebut dari dulu; mulai sejak periode perang Aceh-Belanda, konflik Aceh-Indonesia, gempa-tsunami Aceh, dan hingga kini era damai. Butuh kepedulian dari masyarakat dan terutama pemerintah Aceh (dinas-dinas) untuk penyelamatan ini, lantas lembaga apalagi yang perlu di Aceh agar naskah-naskah kuno itu selamat? (bersambung bag. 2)





Manuskrip Lampanah: Antara Kepedulian dan Warisan (bag. 1)

Read More

Selasa, Maret 29, 2016

PROGRAM Jak Kaloen Manuskrip (JKM) yang saya gagas bertujuan untuk menginventarisir naskah-naskah kuno yang masih “tersisa” di Aceh, baik di koleksi oleh museum Aceh, swasta ataupun koleksi pribadi masyarakat di Aceh.

Selain itu, program tersebut juga bertujuan saling berbagi ilmu dengan pihak-pihak lain dan sekaligus sosialisasi pentingnya merawat naskah dan khazanah lainnya, yang selama ini selalu dinilai ekonomis.

Setelah mengupas setengah naskah-naskah koleksi museum yang mencapai 1.800 buah lebih dari seminggu, kemudian beranjak ke kolektor pribadi masyarakat. Tanggal 20-21 Maret diadakan di rumah kediaman bapak Tarmizi A Hamid, dengan mengusung format awal terbuka untuk umum dan gratis untuk segala usia.

Kegiatan JKM tersebut seperti sarasehan dan diskusi tentang seputar manuskrip-manuskrip yang ada di Aceh, ataupun di luar Aceh. Fokus kajian tidak terbatas pada ilmu-ilmu manuskrip, tetapi juga interdisipliner ilmu sesuai dengan peminat dan kontekstual yang terdapat dalam pikiran peserta yang hadir. Dengan demikian, informasi tentang ilmu pernaskahan dan ilmu-ilmu lainnya saling terikat dan terkait.

Pada kesempatan tersebut dihadiri oleh akademisi dan beragam elemen seperti oleh Dr. Jabbar Sabil dosen UIN Ar-Raniry, Fauzan Santa dari Dokarim, dan Fadhil Rahmi, Lc serta rombongan Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT), Thayeb Loh Angen, Prof. Aliyasa’ Abubakar dan peserta lain-lainnya.

Inti diskusi kali ini sangat menarik, mulai dari jaringan keilmuan Aceh ke Timur Tengah, khususnya Arab, seperti banyak karya-karya ulama Aceh disalin dan dicetak di Haramain, Mesir, Turki, India dan wilayah Islam lainnya. Dalam hal ini, Aceh sudah go internasional.

Namun, sekarang ini tidak ada peminat dari Aceh yang mengkaji karya-karya intelektual dulu yang mewarnai keilmuannya di Arab, padahal karya mereka sebanding dengan tokoh-tokoh Arab. Kali ini, patut disebut kita jago kandang.

Diskusi semakin menghangat saat Prof Al Yasa’ Abubakar mengajukan pertanyaan tentang beberapa kajayaan Aceh yang timpang dengan potret sekarang, seperti bagaimana gambaran teknologi Aceh masa lampau yang sempat terekam dalam manuskrip, jikalau Aceh dianggap sebagai sebagai sebuah Kerajaan yang megah?

Bagaimana produksi kapal-kapal perang di Aceh yang melawan Portugis dan Belanda, bagaimana pembuatan meriam? hingga proses industri kertas manuskrip dan perdagangannya antara Aceh dengan Eropa.

Memang, persoalan tersebut bukan hanya pada kajian saja, tetapi juga SDM, bahwa kajian manuskrip tidak banyak peminat di Aceh, tidak seperti di Eropa. Jika secaraa spesifik belum ditemui manuskrip-manuskrip pembuat meriam, senjata dan mesiunya, kapal perang, alat-alat teknologi lainnya, yang konon merupakan alat-alat perang tangguh yang menjadi kebanggaan kesultanan Aceh.

Tetapi kemudian saya pun tidak heran jika dibandingkan Aceh di era modern seperti sekarang ini masih mimpi punya kapal laut sendiri, kapal terbang produk sendiri, hingga Pembangkit Listrik (PLN) di Aceh, semua harus terus gigit jari, yang hingga saat ini masih dalam angan-angan.
Jika “kehebatan dan teknologi” dulu masih terekam dalam hikayat-hikayat Aceh atau catatan-catatan perjalanan orang Eropa, malah sekarang Aceh hanya sebatar warung kopi, ganja (sabu-sabu), dan syariat.

Kegiatan JKM akan terus saya lakukan, sebagai seorang pengkaji manuskrip dan dosen di UIN Ar-Raniry. Tidak ada donatur atau funding dari pihak manapun, bahkan ini mengocek kantong sendiri. Semua semata-mata kecintaan saya terhadap khazanah Aceh yang semakin banyak hilang atau rusak, terutama di masyarakat.

Keprihatinan saya sejak masyarakat dan kolektor selalu menawarkan dan menjual naskah ke saya dengan harga yang bervariasi. Namun dana yang terbatas, saya mencari plot anggaran ke dinas-dinas Pemerintah Aceh sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam penyelamatan warisan budaya (heritage)

Aneh bin ajaib, misalnya tahun ini tidak ada anggaran untuk penyelamatan naskah-naskah Aceh. Sehingga, sangat wajar jika kemudian masyarakat melirik para pemburu manuskrip dari luar negeri.
Memang, pengetahuan akan pentingnya manuskrip terhadap masyarakat itu sangat perlu disosialisasi, tetapi juga sangat penting kepedulian pemerintah Aceh memberi perhatian khusus kepada khazanah intelektual ulama-ulama di Aceh melalui karya-karyanya bahwa Aceh pernah hebat dengan kecanggihannya, dan semoga kita tidak menyemai kebodohan kepada generasi selanjutnya.

source: http://aceh.tribunnews.com/2016/03/24/jak-kaloen-manuskrip

Jak Kaloen Manuskrip

Read More

Kamis, Maret 24, 2016

BANDA ACEH - Hermansyah, salah seorang pengkaji manuskrip dan naskah-naskah klasik di Aceh sekaligus dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry mengadakan kegiatan Jak Kalon Manuskrip (JKM) di Aceh. Kegiatan tersebut sekaligus melihat perkembangan naskah kuno di Aceh, terutama naskah-naskah perang Aceh melawan Belanda.

"JKM kali ini (20-21 Maret 2016) dilakukan di rumah kolektor manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid merupakan salah satu bagian dari kegiatannya menelusuri manuskrip-manuskrip tentang Perang Sabi Aceh melawan Belanda," kata Hermansyah.

Dalam inventarisasi yang dilakukan pada kegiatan tersebut ditemui beberapa naskah yang unik dan langka dari berbagai judul dan bidang ilmu, akan tetapi tidak ditemui dengan naskah perang Aceh.

Sebelumnya, kata Hermansyah, kegiatan tersebut juga sudah dilakukan di Museum Aceh selama dua kali berturut-turut. Di sana didapatkan 4 teks prang sabi Aceh yang ditulis pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yaitu periode perang Aceh melawan Belanda.

"Penelusuran naskah-naskah Perang Aceh merupakan salah satu bagian dari kegiatan dalam memperingati perlawanan Aceh melawan Belanda sejak 143 tahun silam. Belanda mendeklarasikan pada dunia (Eropa) berperang dengan bangsa Aceh sejak 26 Maret 1873," katanya.

Sejak tahun tersebut, bencana peradaban menghancurkan Aceh. Kesigapan Aceh terhadap agresi luar, konflik internal, watak dan tabiat orang Aceh, hingga kepentingan kelompok menjadi bumerang terhadap masyarakatnya yang telah dibangun selama berabad-abad. Jati diri orang Aceh tergadai oleh harta dan tahta Belanda.

Sejauh ini, Hermansyah telah menginventarisir 60 manuskrip perang sabi, baik prosa ataupun syair (hikayat), seperti Hikayat Prang Sabi. Dari jumlah tersebut, 10 manuskrip ada di Aceh, selebihnya di luar negeri, terutama Leiden.

Hikayat Prang Sabi merupakan naskah yang mampu mengobarkan semangat melawan Belanda dan mati di jalan perang. Hingga, Belanda pun mengumumkan untuk membakar semua kitab Prang Sabi untuk menghapus jiwa nasionalisme Aceh. Namun, kemudian hari sebagiannya dibawa ke Belanda untuk dipelajari "pikiran" orang Aceh.

Source: http://portalsatu.com/read/histori/hermansyah-menelusuri-manuskrip-perang-aceh-8605

Hermansyah, Pemburu Manuskrip Perang Aceh

Read More

Sabtu, Januari 23, 2016


"Jumat di Mesjid Albania" adalah shalat Jumat di mesjid yang menggunakan  bahasa Albania sebagai ceramah dalam khutbahnya. Keberadaan mesjid ini berbatasan langsung dengan Mesjid Arab, dan Mesjid Pakistan-Indonesia. Mesjid Albania berada di lantai dasar sederet dengan Mesjid Pakistan-Indonesia, sedangkan Mesjid Arab berada di lantah bawah Mesjid Albania.

Kedua pintu masuk mesjid ini sangat berdekatan, yang diselangi sebuah toko Turki/Albania yang menjual beragam khas Muslim (baju, sajadah, parfum, tasbih, buku) hingga alat elektronik seperti Hp.

Usai Shalat Jumat, 2016
Biasanya, jamaah-jamaah yang shalat di Mesjid Arab akan wudhu (tung ie seumbahyang) ke Mesjid Albania, sebab tempat wudhu di Mesjid Arab terlalu kecil daripada di Mesjid Albania yang berada di dalam gedung di lantai bawah. Sehingga setelah wudhu mereka akan keluar lagi menuju Mesjid Arab. Tidak ada perbedaan antara sesama muslim, mereka saling menerima satu dengan lainnya. Setiap Muslim (jamaah) pun dapat memilih mesjid mana yang mereka inginkan untuk shalat Jumat.

Tata tertib shalat Jumat di Mesjid Albania dimula dengan ceramah (pengajian) dalam bahasa Arab. Sang penceramah duduk di atas podium (bukan Mimbar). Dia menjelaskan (syarah) isi kitab tentang tema-tema tertentu. Menjelang masuk waktu shalat Jum'at, pengajian ceramah selesai.

Sang Muazzin mengumandangkan azan pertama. dan kemudian mengajak Jamaah shalat Sunnah Qabliyah. Sesaat usai shalat Sunnah, sang Khatib naik atas mimbar dari arah Jamaah, seperti mimbar di Madinah dan umumnya negara Islam. Masih menghadap kiblat di atas mimbar sang Khatib membaca do'a sambil mengangkat tangan. Usai membaca doa atas mimbar atau sebelum khatib, kemudian ia membalikkan badan menghadap ke Jamaah dan kemudian duduk, tanpa mengucapkan salam. Tata cara itu juga sama dilakukan oleh Khatib di Mesjid Turki. Disusul kemudian Muazzin mengumandang azan ke dua.

Mimbar Jumat cuma lima anak tangga yang menghadap ke Jamaah, sehingga setiap khatib yang naik atas Mimbar melalui Jamaah. Mimbar yang sama juga di Mesjid Turki, Mesjid Arab, dan Mesjid Pakistan-Indonesia. Hampir semua mimbar memiliki model seperti ini mengikuti mimbar Nabi di Madinah, dan itu sesuai anjurannya. Di Atas mimbar tersebut, sang khatib tidak memegan tongkat, dan tidak disediakan tongkat.

Di Hamburg Jerman, sepertinya masih sulit membedakan orang-orang Albania dengan Turki dan kawasan sekitarnya. Paras wajah dan postur tubuh orang-orang  Albania secara umum sama dan hampir mengikuti Turki. Mungkin saja ini karena Albania pernah berada lama di bawah kekuasaan Ottoman Turki yang sebagian besar kemudian menetap di sana.

baca: Jumat di Turki

Albania adalah sebuah negara yang terletak di Eropa bagian Tenggara. Albania berbatasan dengan Montenegro di sebelah Utara, Serbia (Kosovo) di Timur Laut, Republik Makedonia di Timur, dan Yunani (Greece) di Selatan.
Apabila melihat posisi  geografis negara Albania, maka dapat dipasikan sangat strategis karena berada di perbatasa laut Italia memasuki kawasan Eropa sebelah Timur. Ia juga salah satu negara terbesar dengan negara-negara sekitarnya seperti Kosovo, Macedonia, Montenegro, bahkan dengan Italia. Namun sayangnya, negara ini jatuh dalam "konkalikong skema Piramida" dan perang yang berkepanjangan sehingga membuat negara ini miskin. Negara-negara kuat di Eropa sebaliknya memanfaatkan negara yang "bodoh akibat perang" dalam merekrut kekayaan dan penguasaan ekonomi berdalih bantuan IMF dan lainnya.

Albania adalah salah satu negara di Eropa (pengeculian Turki yang adalah negara lintas benua) yang mayoritas penduduknya beragama Islam selain Bosnia, Herzegovina dan Kosovo. Walau begitu, menurut penelitian tahun 2010, Albania adalah salah satu negara yang paling tidak beriman di dunia; hanya 39% dari jumlah populasi yang menganggap agama memainkan peran penting dalam kehidupan mereka. Hal ini disebabkan karena setelah berdiri atas Kerajaan (1272), kemerdakan dari Kesultanan Usmaniyah (1912), dan Negara Republik (1928) (1946) (1976) (1991). Dari tahun 1912 hingga 1945 tidak menetapkan agama resmi dan melemahkan peran ulama dan klerus dalam kehidupan sehari-hari.


Singkatnya, perang dan konflik politik-agama yang berkepanjangan menjadikan negeri ini miskin. Tahun 1190 berdiri jadi Negara Kerajaan. Abad ke-14 M direbut oleh Turki hingga akhir abad 19. Lepas dari otoritas Ottoman Turki, menjadi negara Republik 1925 dan berubah lagi menjadi Kerajaan (1928). Era PD II menjadi rebutan negara adikuasa. Negara yang letaknya sangat strategis dicaplok oleh Italia 1939-1943, kemudian diambil alih oleh Jerman. Status merdeka diperoleh lagi jadi negara Republik (1946) dan rakyat Sosialis (1976).

Sejak tahun 1945 tidak menetapkan agama resmi dan melemahkan peran ulama dan klerus dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikan negara Komunis dan pernah mendeklarasikan "negara ateis" pertama di dunia. Walaupun populasi muslim terbesar di Eropa bagian Tenggara.

Walau sudah berada di bawah PBB tahun 1990an, iklim ekonomi, politik dan agama tidak pernah akur. Tahun 1998 jadi tahun bersejarah referendum besar. Terlanjur, negeri yang telah berada dalam "skema Piramida" dan mainan IMF dan jadi makanan empuk negara kapitalis. Belum ada negara-negara super power yang membantu "ikhlas" negara-negara miskin akibat perang, kecuali dalam iming-iming penjajahan dan penguasaan. Dan itu yang terjadi di kawasan-kawasan mayoritas Muslim.

(Hamburg, 22 Januari 2016)

Jum'at di Albania

Read More

Selasa, Januari 12, 2016


Namun demikian, ketakjuban saya pada anak-anak Aceh yang lahir di negeri tersebut tidak membuat mereka lupa pada bahasa indatunya, padahal mereka sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di Aceh. Mereka mampu berbahasa Aceh dengan fasih melebihi anak Aceh di kota-kota di Aceh. Selain bahasa Aceh yang “meu-Aceh” juga belajar bahasa Denmark dan bahasa Inggris.

Selain itu, acara kenduri maulid Nabi juga menjadi istimewa sebab makanan yang disajikan seluruhnya khas citarasa Aceh, mulai dari makanan ringan hingga asoe hidang kenduri. Ini mengingatkan saya setelah sekian lama tidak menikmati makanan khas Aceh selama berada di Jerman.

Tahun ini, Maulid Nabi diselenggarakan bertepatan dengan peringatan 11 tahun gempa tsunami Aceh. Usai acara maulid dilanjutkan samadiyah dan doa kepada para syuhada Aceh dan lainnya pada bencana akbar tersebut.

Pada musim dingin, waktu malam lebih awal dan lebih lama daripada siang. Di dalam Meunasah Aceh tersebut, para pemuda dan masyarakat Aceh terus melantunkan dalae-dalae Maulid Nabi, tidak hanya dalam bahasa Arab, tetapi juga dalam bahasa Aceh.

Jamaah Meunasah Aceh baca Dalae Khairat "Berjanzi" saat Maulid Nabi, 1437 H/ 2015 M
Sehari penuh saya berada di sini, sepertinya sedang berada di “Gampong Aceh” Eropa, berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai daerah di Aceh dengan cuaca dingin bersalju. Tidak berlebihan jika masyarakat Aceh di Negara-negara Eropa ingin menikmati Maulid Nabi seperti di Aceh cukup ke Denmark. Di sini, suasana Maulid Nabi meu-Aceh benar-benar kental.

Pada kesempatan emas ini, saya mendapat banyak informasi dari masyarakat Aceh di Denmark tentang kehidupan mereka dan orang-orang Denmark.

Banyak informasi positif yang saya petik, mulai dari pola pikir dan pola hidup masyarakat, sistem pemerintahan yang baik, petani adalah milioner, biaya hidup rakyat ditanggung pemerintah, peluang dan lapangan kerja bagi masyarakat, sistem sharing penghasilan hingga 38% persen, hingga integrasi pendidikan dimulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK).

Sepertinya, Aceh harus banyak belajar pada Denmark yang sama-sama memiliki populasi penduduk lima juta jiwa, tetapi beda tingkat kesejahteraannya.

Baca: Maulid Nabi meu-Aceh di Denmark

Published on Citizen Reporter Serambi Indonesia

Gampong Aceh Eropa

Read More

Minggu, Januari 10, 2016

Acara ini bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga mengobati rindu mereka ke Aceh dan transformasi ilmu pengetahuan tentang Rasulullah kepada anak-anak mereka yang lahir dan besar di negeri Eropa yang berpenduduk mayoritas non-Muslim.

Pada hari Maulid dalam cuaca dingin mencapai 5 derajat celcius, lantunan bacaan Barzanji dan puji-pujian telah bersenandung sejak pagi di dalam gedung yang baru direhab tersebut yang disebut “Meunasah Aceh” di Kota Aars, Denmark. Selain di sini, Kota Hjoring juga terdapat “Mesjid Aceh” sebagai wadah perkumpulan masyakarat Aceh yang berjumlah lebih dari 200 orang.

Meunasah Aceh di Denmark berfungsi sebagai tempat shalat berjamaah serta tempat pendidikan dan pengajaran Islam kepada masyarakat Aceh, termasuk anak-anak. Di Kota Aars ini merupakan gedung baru yang disewa secara sumbangsih antar sesama yang dilengkapi beberapa fasilitas lain, seperti ruang kantor, dapur dan ruang-ruang belajar untuk anak-anak.

Sebagaimana di Aceh, semangat Maulid Nabi terlihat dari bacaan Dalae Maulod Nabi dari kitab Syaraful Anam atau lainnya. Meudalae tidak hanya diikuti oleh orang-orang dewasa yang pernah hidup di Aceh, tetapi juga anak-anak mereka yang lahir dan besar di negeri Denmark dan belum pernah merasakan alam Aceh.

Baca: Maulid Nabi Meu-Aceh di Denmark

Published on Citizen Reporter Serambi Indonesia  (07/01/2016)

Meunasah Aceh di Denmark

Read More

Rabu, Desember 09, 2015



BANDA ACEH – Aceh yang pernah berjaya sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara diharapkan dapat membangun kembali tradisi keilmuan Islam yang selama ini telah hilang akibat tergerus zaman dan minimnya kepedulian pemerintah.

Hal ini dinilai perlu menjadi perhatian semua pihak dalam upaya membangkitkan kembali keilmuan Islam di Aceh‎, sehingga bisa disegani dunia luar sebagaimana zaman Kesultanan Aceh.

Pernyataan itu disampaikan budayawan dan kolektor manuskrip kuno Aceh, Tgk. Tarmizi A. Hamid pada acara halal bihalal dan dialog khasanah budaya dengan tema, “Membangun Tradisi Keilmuan Islam di Aceh”‎ yang digelar BPR Mustaqim Sukamakmur, di Lampeuneureut, Aceh Besar, Jum’at 24 Juli 2015.

Tarmizi‎ mengungkapkan, tinta emas para intelektual Islam masa lalu sekaliber Hamzah Fansury, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Syekh Abdul Rauf As-Singkili dan ulama lintas zaman lainnya, yang ditulis di media kertas telah menghiasi keilmuan Islam yang sangat tinggi di sentero Asia. Semua ulama tersebut telah menghabiskan umurnya dalam tradisi tulis menulis dengan beribu judul kitab kuno (manuskrip) di Aceh.

“Keilmuan Islam dalam kitab-kitab tersebut di semua aspek sesuai dengan kebutuhan para pencari ilmu yang berbondong-bondong migrasi ke Aceh pada zaman tersebut. Negara-negara Islam lainnya pada masa itu memandang Aceh sebagai pusat pengembangan keilmuan yang berperadaban sangat tinggi, Aceh sangat aspiratif, dalam mengelola berbagai kepentingan hajat hidup semua bangsanya,” kata Direktur Rumoh Manuskrip Aceh ini.

“Nilai-nilai budaya dan sejarah itulah serta peninggalan tradisi yang ditinggalkan oleh leluhur kita yang masih dapat kita lihat, membaca dan meneliti sampai kepada zaman ini yang saya himpun dari berbagai daerah di Aceh yang saat ini  tersimpan di koleksi saya berupa Naskah Kuno. Ini adalah salah satu item yang maha penting sebagai referensi tradisi keilmuan Islam yang bisa ditransformasi kepada anak cucu kita baik sekarang maupun yang akan datang di negeri yang diridhai oleh Allah SWT,” kata Tarmizi.

Sementara pada sesi kedua, Peneliti Naskah Kuno (Filolog) Aceh, Hermansyah M.Th, MA.Hum,‎ lebih khusus menghantarkan beberapa keilmuan yang ada dalam manuskrip serta perkembangan pembangunan keilmuan manuskrip di negara-negara maju yang semua negara tersebut berstatus bukan negara Islam.

Dirut BPR Mustaqim Sukamakmur, Teuku Hanansyah berfoto bersama dengan dua maestro manuskrip kuno Aceh, Tarmizi A. Hamid dan Hermansyah (27 Juli 2015)

Diantara negara yang sangat berminat dengan kajian-kajian manuskrip seperti Inggris, Belanda, Amerika, Jerman, dan Jepang, yang kini membuka beberapa konsentrasi bidang tersebut. Negara-negara tersebut berlomba-lomba untuk membuat pusat studi Islamic dan lembaga penelitiannya khususnya dengan manuskrip yang berbahasa Arab, Melayu dan Aceh sendiri. Dan kini (2016) terbukti beberapa universitas di Eropa membuka bidang kajian manuskrip tersebut.

Hermansyah yang juga Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry ini, menjamin apabila ada generasi sekarang yang ingin mengambil jurusan Filologi di luar negeri, disamping diterima dengan senang hati juga akan diberikan beasiswa sampai kepada S-3 (doktor).

Ia mencontohkan dirinya sendiri, yang fokus mempelajari manuskrip-manuskrip yang langka dipelajari oleh kalangan sekarang.

“Sebentar lagi saya juga akan berangkat melanjutkan studi di Jerman dalam keilmuan filologi juga. Jadi kesempatan ini bisa diperoleh semuanya, tinggal kita saja mau melanjutkan sebuah tradisi keilmuan Islam yang telah diwarisi oleh leluhur kita ini,” katanya.

Dalam dialog yang turut dihadiri Dirut BPR Mustaqim Sukamakmur, Teuku Hanansyah, juga diisi dengan tanya jawab oleh semua peserta yang hadir pada acara ini. Mereka terlihat kagum dengan kehebatan keilmuan masa lalu di Kerajaan Aceh Darussalam itu. []

Sumber: http://archives.portalsatu.com/budaya/aceh-perlu-bangun-lagi-tradisi-keilmuan-islam/

Aceh Perlu Bangun Lagi Tradisi Keilmuan Islam

Read More

Rabu, September 30, 2015

Pasca rehab rekon gempa tsunami, manuskrip koleksi  Museum Aceh mendapat “pelayanan” berupa digitalisasi yang dilakukan oleh Leipzig University Jerman bekerjasama dengan Pemerintah Aceh, dimulai tahun 2006. Kerjasama kedua belah pihak guna penyelamatan manuskrip-manuskrip yang ada di Aceh pasca gempa tsunami dalam bentuk softcopy atau perangkat lunak. Tentunya sangat berguna, apabila suatu saat nanti fisik naskah rusak, maka masih tersisa digital naskah dalam bentuk softcopy yang bisa diakses. Manfaat lainnya adalah kandungannya isi kitab (manuskrip) dapat dibaca di mana saja tanpa banyak bersentuhan dengan fisik naskah yang dapat mempengaruhi fisik naskah.
Pada awal tahun pelaksanaannya, sekitar 1600 naskah kuno koleksi Museum Aceh di ismpan di ruangan khusus. Namun, tidak semua didigitalkan oleh pihak Leipzig University. Ada beragam kemungkinan, kemungkinan salah satu di antaranya adalah masa program tersebut yang terbatas. Sehingga, setengah dari jumlah tersebut yang dapat diselesaikan, walaupun belum ada data akurat berapa jumlah manuskrip Aceh yang didigitalkan pada program tersebut. Ini sangat mengherankan disebabkan tidak ada keakuratan data yang dimiliki oleh kedua belah pihak, dan dapat dimaklumi, sebelum mungkin lahirnya katalog yang lebih lengkap naskah yang  telah didigitalkan, direstorasi dan lainnya.
Berapapun jumlahnya menunjukkan sebagian besar naskah yang tersimpan di Museum Aceh belum terdigitalisasikan. Terutama, manuskrip-manuskrip yang langka dan tunggal (codex unicus) patut menjadi perhatian.
Awal tahun 2015, saya meluangkan waktu libur perkuliahan kampus untuk membaca naskah-naskah di Museum Aceh. Naskah koleksi Museum Aceh menjadi target saya mengingat manuskrip di sini masih kurang tersentuh oleh para pelajar, pembaca dan peneliti. Beberapa manuskrip memang menjadi perhatian saya, sebab selain isinya yang sangat penting, juga sangat langka.
Teks Naskah Uroe Asyura, akibat kadar zat asam tinta yang melebur
semakin besar setiap tahunnya dapat merusak (menghanguskan) kertas

Syukur Alhamdulillah, pada awal tahun saya memiliki sedikit simpanan lebih dari kantong pribadi saya, yang kemudian muncul untuk menyelamatkan naskah-naskah Aceh dalam bentuk digital, yang belum dilakukan oleh pihak-pihak lain sebelumnya. Dan, sebagai orang yang prefesional di bidang foto digital, serta telah banyak melakukan berbagai digitalisasi bersama saya selama ini, saya mengajak sdr. Irfan dan sdr. Karamullah (serta Tim Glamour) untuk menunaikan hajatan tersebut. Bagi saya, mereka sudah professional, berpengalaman dan terpercaya. Selain itu, mereka bekerja tanpa patokan harga, setidaknya bagi pribadi saya.  Di sisi lain, sambutan baik pihak Museum Aceh menjadikan program ini sebagai langkah awal untuk dapat mendokumentasikan naskah-naskah penting.
Mengingat semangat yang muncul dan sambutan baik, maka kami melakukan digitalisasi naskah-naskah Museum Aceh. Tidak banyak naskah yang dilakukan dalam sehari kerja, mengingat dana dan waktu yang terbatas, dan dapat mendigitalisasikan beberapa  naskah,  antaranya:


1. Syarabul Asyiqin dan Asrarul ‘Arifin karya Hamzah Fansuri
2. Safinatul Hukkam fi Talkhisil Khassam karya Syekh Jalaluddin bin Syekh Kamaluddin At-Tarusani
3. Nasihatul Muslimin wa Tazkiratul Mukminin fi Fazail Jihad fi Sabilillah karya Abdussamad al-Palembani.
4. Hikayat Uroe Asyura : Anonim
5. Hikayat Prang Sabi : Anonim


Naskah-naskah dianggap penting karena tidak banyak disalin dan semakin sulit ditemui. Setiap naskah akan dideskripsikan khusus pada bagiannya masing-masing.
Harapan ke depan, penyelamatan naskah-naskah dalam bentuk digital akan terus kami lakukan, semampunya dan sekuatnya, baik koleksi Museum Pemerintah, swasta ataupun koleksi pribadi masyarakat.

5 Manuskrip Penting Koleksi Museum Aceh Didigitalisasikan

Read More

Selasa, November 26, 2013

Penulis (paling kanan baju warna merah) bersama dengan Wakil Bupati
Rektor UTU Meulaboh dan pembedah buku


Buku "Meulaboh Dalam Lintas Sejarah Aceh" diluncurkan dan dibedah pada hari Senin (25/11/2013) di kantor Bupati Aceh Barat yang dibuka oleh Wakil Bupati Aceh Barat, Drs. H. Rachmat Fitri HD, MPA, mewakili Bupati Aceh Barat, H. T. Alaidinsyah.
Buku ini ditulis oleh Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA) Aceh Barat, HT Ahmad Dadek bersama Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang juga ahli manuskrip Aceh, Hermansyah, serta editor Arif Ramdan, wartawan Serambi Indonesia di Aceh.

Peluncuran buku ini dipadukan dengan bedah buku oleh Dr.Gunawan Adnan, MA., Ph.D, yang menurut beliau hadirnya buku ini patut diapresiasi dan dibaca, sebab ini dapat menjadi rujukan utama karena kajian dalam buku ini dipadu dari sumber-sumber primer, manuskrip dan buku-buku Belanda.

Buku tersebut berisi tiga dimensi periode. Meliputi Meulaboh dalam literatur klasik; Kesultanan Aceh, orang-orang Pribumi, Teungku dan Datuk: literatur klasik Manuskrip; 

Periode kedua merupakan periode Kolonial Belanda, sejak menginjak kakinya di Meulaboh pada tahun 1877. Pada bagian ini antara lain terdapat Hikayat-hikayat Aceh versi van Langen, Hikayat Teungku di Meukek, dan Hikayat Ranto, West Kust van Atjeh, dan lain-lain.


Meulaboh Dalam Lintas Sejarah Aceh

Read More

Jumat, Oktober 11, 2013


FAKULTAS Adab dan Humaniora IAIN Ar-Raniry mengadakan workshop tahqiq naskah-naskah Arab yang berpengaruh di Aceh dan Nusantara, Senin (7/10) lalu di Museum Lembaga Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy (YPAH).

Peserta yang workshop dikhususkan bagi mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) tersebut diikuti oleh 16 orang peneliti muda dari kalangan mahasiswa dan peserta umum lainnya mencapai 20 orang. Demikian disampaikan oleh filolog Aceh Hermansyah yang juga dosen IAIN Ar-Raniry.

“Selama ini, naskah-naskah Arab di Aceh, khususnya karya ulama Aceh dalam bahasa Arab, sering terabaikan disebabkan fokus kajian mahasiswa lebih kepada kitab-kitab dan tokoh Arab. Padahal sumber-sumber manuskrip di Aceh sangat melimpah, karena ulama-ulama terdahulu belajar langsung ke jazirah Arab. Problem tersebut juga dipengaruhi oleh sumber daya mahasiswa dalam kajian naskah Arab masih minim,” sebut Hermansyah.

Hermansyah juga menyebutkan, Lembaga YPAH dipilih sebagai tempat pelatihan karena lembaga ini menyimpan naskah-naskah Arab.

Ada sekitar 232 bundel naskah dengan 314 teks di dalamnya sudah dideskripsikan, dan ternyata 45% dari jumlah itu berbahasa Arab. Jauh mengalahkan persentase naskah berbahasa Aceh yang mencapai 10%, dan sisanya berbahasa Jawi (Melayu). Ke depan diharapkan mahasiswa atau peneliti muda dapat menindak lanjuti kajian manuskripnya yang tersimpan disana.

Hermansyah sebagai pengarah dalam workshop tersebut juga mengharapkan setiap tahunnya ada penelitian manuskrip di kampus IAIN Ar-Raniry, khususnya Fakultas Adab dan Humaniora, bukan hanya satu bidang disiplin, tapi mencakup untuk multidisipliner ilmu-ilmu yang ada. Karena, banyak naskah yang belum terjamah yang kini menunggu sentuhan mahasiswa dan penelitian.

“Diharapkan, masa mendatang kita akan buat lebih besar dan luas lagi, melibatkan beberapa universitas atau perguruan tinggi yang ada di Banda Aceh, serta lembaga masyarakat yang focus terhadap manuksrip atau ilmu-ilmu yang linier mencakup semua bahasa dan pembahasan yang ada,” harapnya.

source:
http://www.theglobejournal.com/Pendidikan/mahasiswa-adab-humaniora-workshop-manuskrip/index.php
http://seputaraceh.com/read/20252/2013/10/09/workshop-manuskrip-menunggu-sentuhan-mahasiswa-dan-peneliti
http://pemerintah.atjehpost.com/read/2013/10/07/68350/0/71/Mahasiswa-IAIN-Ar-Ranirry-gelar-workshop-manuskrip

Adab IAIN Ar-Raniry Adakan Workshop Manuskrip di Museum Ali Hasjmy

Read More

Selasa, Mei 21, 2013

Saat restorasi naskah di rumah Tarmizi A Hamid
Bersama tim PKPM, 2012
Pasca gempa-tsunami Aceh 2004 telah menghancurkan banyak cagar budaya Aceh, termasuk manuskrip (naskah kuno). Manuskrip adalah dokumen dalam bentuk apapun yang ditulis dengan tangan yang telah berumur 50 tahun lebih (UU Cagar Budaya No. 5 Tahun 1992, Bab I Pasal 2). Pada saat bencana itu datang, ratusan naskah dan ribuan teks tulisan musnah di Aceh dilahap oleh ombak air laut. Beberapa di antara kolektor, seperti Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), Tarmizi A Hamid (kolektor pribadi) belum sempat melakukan preservasi, salinan ulang, digitalisasi, ataupun backup manuskrip yang bernilai tinggi dan memiliki informasi penting lainnya.
Belajar dari kejadian tersebut, kemudian banyak lembaga terjun ke Aceh, dari luar dan dalam negeri, untuk melakukan preservasi naskah. Sebagian programnya, ada yang tuntas, setengah jalan, mungkin ada yang gagal total. Tapi kini, melihat semua hasil tersebut belum mencapai sasaran (dalam beberapa bidang) misalnya, pemahaman masyarakat dalam melestarikan warisannya, pengetahuan untuk pelestarian dan perawatan naskah, ataupun pengembangan kajian manuskrip.
Karenanya, perlu ada pendidikan dan informasi umum untuk masyarakat, supaya manuskrip tidak hanya disimpan, disakralkan, atau sebaliknya, dibakar, dimusnahkan, dan diabaikan. Setidaknya ada pengetahuan masyarakat bagaimana mereka menjadi bagian dalam penyelematan warisan indatunya.
Dalam dunia pernaskahan, dan melihat konstektual pernaskahan di Aceh. Ada dua pendekatan dalam mengkaji warisan kebudayaan sastra yang tertuang dalam naskah pertama Filologi kedua kodikologi.

Strategi Preservasi Manuskrip

Read More

Minggu, April 28, 2013

Sisi luar gedung penyimpanan manuskrip yang sudah tua dan rusak, 2012
(Foto Koleksi Pribadi Hermansyah)
Zawiyah Tanoh Abee, nama yang tidak asing bagi setiap orang di Aceh, bahkan juga di luar negeri. Saat disebut Tanoh Abee juga akan diidentikkan dengan "manuskrip Aceh", baik sebagai skriptorium maupun sebagai sarana belajar ilmu agama dalam bentuk tradisi penulisan dan penyalinan.
Tanoh Abee, entah berapa tokoh yang telah diorbitkannya, dan entah berapa profesor yang lahir bersumber penelitian dari tanah debu ini. Memang ironis, saat namanya yang begitu megah, kini ia harus menyendiri dalam kesunyian.
Zawiyah Tanoh Abee tersingkir oleh keangkuhan dan ketidakpedulian generasinya. Konstribusi, perjuangan, dan pergolakannya dalam mencerdaskan umat manusia sepanjang berdiri Kesultanan Aceh hingga kemerdekaan Republik Indonesia belum mampu menggores bekunya hati pemimpin.
Mungkin, kekaguman kita -sebagai muslim- akan biasa terdengar sayup di telinga akan Tanoh Abee, sebagai lembaga yang mampu mewarisi ribuan naskah klasik dan orisinil itu.
Akan tetapi tidak hanya muslim, kekaguman itu telah membuat para peneliti non-muslim pun terkesima, salah satunya Henri Chambert-Loir, sebagai filolog senior dan peneliti, dalam kata pengantarnya di buku Katalog Tanoh Abee, iapun menumpahkan segala isi hatinya.
"Menurut cerita dan silsilah itu, seorang asal Baghdad bernama Syekh Fayrus al-Baghdadi tiba dan menetap di Aceh pada paruh kedua abad ke-17. Anak cucunya kemudian mendirikan empat dayah di Aceh: tiga di daerah Seulimeum (di Tanoh Abee, Klut dan Leupung Ngoum) dan satu di daerah Indrapuri (di Lampucuk). Kata Aceh dayah berasal dari kata Arab zawiyah dan menunjukkan sebuah lembaga pendidikan Islam tradisional lokal, semisal pesantren di Jawa.

Zawiyah Tanoh Abee: Antara Kemasyhuran dan Kepedulian Kita

Read More

Senin, Desember 03, 2012


Sebagai sastrawan, karya Hamzah Fansuri pada abad ke-16 tidak hanya mempengaruhi penyair-penyair Melayu abad ke-17 dan ke-18 , tetapi juga penyair-penyair modern baik di Indonesia maupun Malaysia (Melayu-Nusantara). Pengaruh ini bisa berlaku secara langsung atau tidak langsung. Pengaruh prinsip-prinsip pembaruan Hamzah Fansuri masih membayangi prinsip-prinsip pembaruan para penyair modern.
Hamzah Fansuri termasuk seorang dari para perintis jalan baru. Karya-karyanya menjadi pertanda lahirnya era Melayu Klasik. Namun demikian, tidak berarti bahwa sebelumnya di Nusantara –khususnya Aceh- tidak pernah menghasilkan karya puisi sama sekali. Puisi telah berkembang sebelumnya secara lisan, yang menjadi sebuah tradisi dan adat di Aceh. Namun Hamzah Fansuri ialah tokoh pemula puisi Melayu klasik tertulis, sebagai suatu jenis sastra yang nyata dan mempunyai bentuknya yang tersendiri. Hamzah Fansuri juga telah membuka cakrawala perkembangan prosa mistik-keagamaan yang bersifat ilmiah.
Walaupun kebesaran Hamzah Fansuri sebagai pelopor pertama syair modern dan kesusasteraan tidak diragukan, namun tidak mudah menemukan karya-karyanya dalam bentuk manuskrip, karya tulis tangan di lembaran-lembaran masa lampau. Dari beberapa skriptorium naskah yang ada di Aceh, seperti

Peranan Hamzah Fansuri Dalam Kesusasteraan Nusantara

Read More

Kamis, Mei 10, 2012



BANDA ACEH – Belasan mahasiswa jurusan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Ar Raniry Banda Aceh melakukan studi naskah ke kediaman kolektor manuskrib, Tarmizi A Hamid, Rabu, 9 Mei 2012.

Kegiatan ini dibuat agar mahasiswa lebih mengenal manuskrip secara langsung, baik dari segi fisik, karakteristik dan keunikannya, ataupun kodikologi dan kandungan isi naskahnya. Dengan adanya studi naskah ini mahasiswa dapat membaca, menyentuh dan menganalisa manuskrip secara langsung sehingga minat mereka semakin besar untuk mengkaji naskah.

Tarmizi A Hamid dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa ia sangat mengapresiasi kegiatan mahasiswa, dengan begitu koleksi naskahnya yang sudah disimpan bertahun-tahun bisa berguna untuk mahasiswa Aceh.

Mahasiswa IAIN Studi Naskah Ke Kediaman Tarmizi A Hamid

Read More

Minggu, April 01, 2012

Banda Aceh – Puluhan elemen masyarakat yang tergabung dalam beberapa lembaga di antaranya  aktivis, seniman, Production House (PH), penulis,  dan kalangan media di Aceh mengadakan pertemuan untuk memperingati 501 tahun Kesultanan Aceh Darussalam.

Acara peringatan yang turut di hadiri ketua DPRK Banda Aceh Yudi Kurnia dan Arkeolog Aceh, Dr. Husaini dari Unsyiah  berlangsung di D’Rodya Café, Banda Aceh, Sabtu (31/3),  mendapat sambutan baik dari sejumlah elemen masyarakat yang hadir.

Arkeolog Aceh, Dr. Husaini mengaku, bahwa di Aceh perlu mengangkat sejarah di Aceh, masyarakat dan pemerintah, begitu juga dengan peneliti sejarah di Aceh harus meneliti kembali tentang situs situs sejarah dan kesultanan Aceh. Pasalnya, sejauh ini masih banyak kesimpangsiuran sejarah, bila hal ini tidak diluruskan maka sejarah di Aceh akan menjadi teka teki  dimasa depan.

Peneliti sejarah, lulusan India, Hermansyah, mengaku, bahwa banyak sejarah Aceh yang sudah tidak terarah lagi, di mana banyak sekali situs-situs sejarah di Aceh tidak terawat dengan baik bahkan ada yang hilang. Begitu juga dengan sejarah tentang Kesultanan di Aceh.

“Sejarah kesultanan di Aceh sudah cukup banyak yang berubah karena ditulis oleh orang luar Aceh, misalnya, terkait tentang kesultanan itu ada 34 sultan, namun,

501 Tahun Kesultanan Aceh Darussalam

Read More

Kamis, Februari 23, 2012


Foto Bersama 22 Febr 2012 

Ada pelajaran penting yang harus kita petik dari kunjungan mahasiswa/i  National University of Singapore (NUS) ke tempat-tempat koleksi manuskrip (naskah kuno), bahwa mereka masih peduli dan menekuni sejarah bangsa lain, khususnya  warisan khazanah Melayu-Aceh yang berbentuk naskah kuno.

Dalam kesempatan ini, Saya (Hermansyah) mendapat kesempatan untuk sharing ilmu dengan Prof Jan Van Der Putten (Association Professor) di NUS dan mahasiswanya. Dalam perbincangan tersebut, poin yang sangat penting adalah Singapura memiliki kesempatan baik untuk mendalami bidang Melayu Klasik, karna bagian tersebut tidak terpisahkan antara asal mula Singapura yang berhubungan langsung dengan dunia Melayu dan Nusantara. Dan, prospek ke depan sangat terbuka lebar untuk menjadi bagian yang sangat penting ini, karena ini seiring dengan perkembangan di Aceh yang saban hari semakin banyak ditemukan naskah-naskah Aceh yang beragam dan unik.

Inilah oleh-oleh yang terbaik diberikan Aceh kepada negara Singapura

Oleh-oleh Manuskrip Aceh Untuk Singapura

Read More


Awan hitam mendung telah mewarnai langit cerah di pagi, kerinduan hujan kepada bumi tidak dapat menghentikannya turus dengan deras di alas yang tidak terbatas. Dalam keadaan hujan deras menyirami bumi ini, pada saat itu kami memulai temu ramah dan hangat atas kunjungan Gen-K dan penulis Mariska Lubis dalam agenda penyerahan buku "ayahku Inspirasiku".

Di antara keseriusan pembicaraan di ruang tamu beralaskan hambal dan tikar, tak lepas dari ketakjuban dan terkejut atas koleksi naskah Tarmizi A Hamid yang mulai di buka satu per satu. Dari naskah berukuran kecil hingga mushaf Al-Qur'an yang berukutan tebal dan besar.

Semua mata terbelalak, termasuk penulis buku Mariska Lubis dan pembina Gen-K Risman A Rachman, karena keduanya

Naskah Kuno Aceh: dari Filolog Aceh Untuk Gen-K

Read More

Rabu, Februari 22, 2012

Foto Bersama Tim UiTM Malaysia dengan Fak Adab IAIN Ar-Raniri
Sebagai pemateri, Hermansyah, MA Hum menampilkan papernya tentang "Preservasi Naskah-naskah Kuno di Aceh (Pra dan Pasca Gempa Tsunami 2004)" di hadapan ratusan peserta yang diadakan di gedung auditorium PascaSarjana IAIN Ar-Raniri Banda Aceh, atas kerjasama UITM Malaysia dengan IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dalam acara “Pelestarian Maklumat & Ilmu Nusantara: Acheh”  (Senin, 20 Februari 2012).


Dalam presentasi tersebut yang menjadi tanda tanya besar adalah, Berapakah jumlah naskah yang hancur dan musnah akibat Gempa-Tsunami 2004 di Aceh? Dan, berapakah manuskrip yang tersisa saat ini? Bagaimana pemeliharaan, restorasi, digitalisasi, dan yang terpenting pengkajian dan penelitian terhadap sumber-sumber primer tersebut.


Pemeliharaan dan pelestarian (preservasi) yang telah dan sedang dilakukan di Aceh selama ini,

Berapa Jumlah Sisa Naskah Kuno di Aceh sekarang?

Read More

Copyright © 2015 Herman Khan | Portal Manuskrip dan Naskah Kuno Aceh dan Melayu | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top